Geopark Ngarai Sianok & Maninjau
Geopark Ngarai Sianok & Maninjau
Danau Maninjau (berarti "pemandangan"
atau "peninjauan" dalam Bahasa minang kabau) adalah sebuah Danau
Kaldera di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau ini terletak sekitar 140 kilometer
(87 mi) sebelah utara Kota Padang, ibu kota Sumatera Barat, 36 kilometer
(22 mi) dari Bukittinggi, 27 kilometer (17 mi) dari Lubuk Basung, ibu kota Kabupaten Agam.
Kaldera Maninjau terbentuk dari letusan gunung berapi
yang diperkirakan terjadi sekitar 52.000 tahun yang lalu.[1] Endapan dari letusan telah ditemukan dalam
distribusi radial di sekitar Maninjau memanjang hingga 50 kilometer
(31 mi) ke timur, 75 kilometer (47 mi) ke tenggara, dan barat ke
garis pantai saat ini. Endapan tersebut diperkirakan tersebar di lebih dari
8,500 kilometer persegi (3,282 sq mi) dan memiliki volume 220–250
kilometer kubik (53–60 cu mi).[2] Kaldera memiliki panjang 20 kilometer (12 mi) dan
lebar 8 kilometer (5,0 mi).[1]
Danau Maninjau merupakan sebuah danau
berbentuk kaldera dengan ketinggian 459 meter di atas permukaan laut.[3] Danau Maninjau merupakan danau vulkanik karena terbentuk dari letusan besar gunung
api yang menghamburkan kurang lebih 220–250 km3 material
piroklastik. Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato
komposit yang berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatra yang
bernama Gunung Sitinjau (menurut
legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau
yang menyerupai seperti dinding. Kaldera Maninjau (34,5 km x 12 km)
ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km
(132 km2). Dinding kaldera Maninjau mempunyai 459 m dari
permukaan danau yang mempunyai kedalaman mencapai 157 m (Verbeek, 1883 dalam
Pribadi, A. dkk., 2007).[4]
Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan Danau Maninjau berkaitan erat dengan
kisah Bujang Sembilan.
Danau Maninjau merupakan sumber air untuk
sungai bernama Batang Sri Antokan. Di
salah satu bagian danau yang merupakan hulu dari Batang Sri Antokan terdapat PLTA Maninjau. Puncak tertinggi diperbukitan sekitar Danau
Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang. Untuk bisa mencapai Danau Maninjau jika dari
arah Bukittinggi maka akan melewati jalan berkelok-kelok yang
dikenal dengan Kelok 44 sepanjang kurang lebih 10 km mulai dari
Ambun Pagi sampai ke Maninjau.[butuh rujukan]
Danau ini tercatat sebagai danau terluas
kesebelas di Indonesia. Sedangkan di Sumatera Barat, Maninjau merupakan danau
terluas kedua setelah Danau Singkarak yang memiliki luas 129,69 km² yang
berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok. Di sekitar Danau Maninjau terdapat fasilitas
wisata, seperti Hotel(Maninjau Indah Hotel, Pasir Panjang Permai) serta
penginapan dan restoran.[butuh rujukan]
Danau Maninjau memiliki luas 99,5
kilometer persegi (38,4 sq mi), dengan panjang sekitar 16 kilometer
(9,9 mi) dan lebar 7 kilometer (4,3 mi). Kedalaman rata-rata adalah
105 meter (344 ft), dengan kedalaman maksimum 165 meter (541 ft).
Outlet alami untuk kelebihan air adalah sungai Antokan, yang terletak di sisi
barat danau. Ini adalah satu-satunya danau di Sumatera yang
memiliki outlet alami ke pantai barat. Sejak tahun 1983, air danau ini telah
digunakan untuk menghasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Air
Maninjau untuk Sumatera Barat, yang dihasilkan sekitar 68 MW
pada beban maksimum.
Sebagian besar masyarakat yang tinggal di
sekitar Danau Maninjau beretnis Minangkabau. Desa-desa di tepi danau antara lain Maninjau dan
Bayur.
Maninjau adalah tujuan wisata terkenal di
wilayah ini karena keindahan pemandangan dan iklimnya yang sejuk. Ini juga
merupakan situs untuk paralayang.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Maninjau